Langsung ke konten utama

Dian Ramadhani. H Raih Dua Medali Emas dalam Olimpiade Sains Nasional Awal Tahun (OSN-AT) 2025


Togean Project - Prestasi gemilang kembali ditorehkan oleh Dian Ramadhani. H, mahasiswa Program Studi Biologi Universitas Negeri Gorontalo. Dalam ajang bergengsi Olimpiade Sains Nasional Awal Tahun (OSN-AT) jenjang mahasiswa yang diselenggarakan oleh Festival Olimpiade Sains Nasional (FOSNAS) pada Minggu, 5 Januari 2025, Dian sukses meraih dua medali emas sekaligus.

Ajang ini diikuti oleh 10.433 peserta dari seluruh penjuru Indonesia, menjadikannya salah satu kompetisi sains terbesar di awal tahun ini. Dian mengikuti jenjang mahasiswa dengan bidang Biologi dan Bahasa Indonesia serta berhasil membuktikan keunggulannya dengan menyelesaikan serangkaian soal online yang dirancang untuk menguji kemampuan analisis, pemecahan masalah, dan pemahaman mendalam dalam bidang Sains.

Ia mengaku keberhasilannya tidak lepas dari persiapan matang dan dukungan penuh dari keluarga serta dosen pembimbing. Ajang OSNAT yang diadakan secara daring ini menjadi momentum penting bagi ribuan pelajar dan mahasiswa Indonesia untuk menguji kemampuan di bidang sains. Dengan jumlah peserta yang mencapai lebih dari 10 ribu, persaingan menjadi sangat ketat.

Namun, Dian berhasil menonjol berkat keunggulannya dalam menjawab soal-soal yang kompleks dan membutuhkan pemikiran kritis. Dengan keberhasilan Dian, diharapkan semakin banyak generasi muda yang termotivasi untuk mengejar prestasi di bidang sains.

Ajang seperti OSNAT menjadi bukti bahwa sains bisa menjadi jembatan bagi generasi muda Indonesia untuk berkompetisi secara sehat dan menginspirasi masyarakat luas.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Tojo Una-Una: Keindahan dan Tantangan di Pulau Surga

Togean Project - Kabupaten Tojo Una-Una, terletak di Provinsi Sulawesi Tengah, adalah sebuah kawasan yang memukau dengan pesona alamnya. Terdiri dari gugusan pulau-pulau kecil, termasuk Kepulauan Togean yang telah lama dikenal sebagai salah satu destinasi ekowisata terbaik di Indonesia. Perairannya yang jernih, terumbu karang yang beragam, dan keunikan budaya lokal menjadikan Tojo Una-Una tidak hanya sebuah tempat, tetapi sebuah pengalaman hidup. Namun, di balik pesonanya, kabupaten ini juga menghadapi berbagai tantangan. Aksesibilitas yang masih terbatas menjadi hambatan utama dalam memaksimalkan potensi wisata. Infrastruktur dasar seperti jalan, transportasi laut, dan layanan kesehatan di beberapa wilayah terpencil masih membutuhkan perhatian serius. Keanekaragaman hayati di wilayah ini menjadi harta tak ternilai, tetapi eksploitasi sumber daya alam dan potensi kerusakan lingkungan juga menjadi ancaman nyata. Kesadaran akan pentingnya keberlanjutan menjadi tugas bersama pemerintah, ...

Asal Mula Terbentuknya Kerajaan Tojo

Togean Project -  Wilyah Kerajaan Tojo kini terletak di Kabupaten Tojo Una-una. Pusat kerajaan ini terletak di Ampana. Berita tertua mengenai Tojo diperoleh dari catatan Valentijn, Residen Jansen, dan Asisten Residen Gorontalo yang bernama Riedel. Ketiganya memberitakan bahwa kawasan Tojo meliputi Tomini, Ampibabo, dan Sausu. Wilayah- wilayah itu berada di bawah pengaruh Kerajaan Limboto. Pada masa itu, belum ada pemerintahan yang terpusat di Tojo. Warga masih hidup di bawah kelompok- kelompok kesukuan yang terpisah. Tojo baru menjadi kerajaan terpisah dan terpusat setelah kedatangan orang Bone. Inilah yang menjadi alasan mengapa Tojo juga disebut Bone Ca’di (Bone Kecil). Menurut cerita rakyat, Kerajaan Tojo didirikan oleh Pilewiti yang berasal dari Bone, Sulawesi Selatan. Setelah menjadi raja, Pilewiti menyandang gelar Raja Andi Ahmad Lacuku. Pilewiti pada mulanya adalah salah seorang putra Raja Bone yang selalu merantau guna mencari ikan. Suatu ketika, Talamoa atau “orang yang t...

Agama dan Kepercayaan Masyarakat Sulawesi Tengah Pada Masa Lampau

Togean Project - Sebelum masuknya agama Islam dan Kristen, masyarakat Sulawesi Tengah, baik di Poso, Mori, Napu, Besoa, Lore, maupun Bada, meyakini adanya kekuatan gaib yang dipercayai menguasai hidup manusia yang disebut halaik. Kekuatan ini diyakini sanggup menentukan kehidupan manusia. Selain itu, mereka juga menghormati arwah nenek moyangnya beserta dewa-dewa dan roh, seperti Pue mPalaburu (roh pencipta yang bersemayam di tempat terbit serta terbenamnya matahari), Lasaeo (roh yang memperkenalkan tanaman padi kepada manusia), Rongga (roh yang mendatangkan keberuntungan), Waringin (roh penguasa hutan), dan lain sebagainya. Di samping itu, mereka mengenal pula apa yang dinamakan Lai (roh penguasa langit) dan Ndara (roh penguasa bumi). Fenomena-fenomena alam seperti guntur, hujan lebat, banjir, gempa, dan lain sebagainya, dianggap sebagai manifestasi amarah kedua jenis kekuatan ini. Oleh karena itu, untuk menenangkan kedua kekuatan di atas perlu dilakukan berbagai upacara ritual yang d...